CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 21 Februari 2012

PRIMBON SEBAGAI PEDOMAN ADAT ISTIADAT



 BUKU PRIMBON SEBAGAI PEDOMAN ADAT ISTIADAT 
MASYARAKAT SRIKANDANG, KECAMATAN BANGSRI KABUPATEN JEPARA



     Buku Primbon adalah salah satu buku yang memuat banyak hal didalamnya dari mulai itungan hari kelahiran, pernikahan, membuat rumah pindah rumah sampai kematian, Masyarakat Srikandang pada umumnya berprofesi sebagai petani,tukang kayu, strata pendidikannyapun menengah kebawah dan  masih banyak yang mempercayai hal-hal yang bersifat Mistis dan tabu, rata-rata adat istiadat kejawen itu masih dipegang teguh karena itu merupakan warisan dari nenek moyang, tidak sembarang orang yang bisa memegang apalagi memiliki buku itu karena orang yang memegang buku itu rata-rata adalah para normal atau Ahli tirakat, konon menurut kepercayaan masyarakat setempat jika orang yang memegang buku itu tidak kuat atu tidak mampu maka bisa gila, sebenarnya buku itu bukanlah warisan turun temurun masyarakt setempat tapi buku itu adalah cetakan baru, meskipun cetakan baru isi dan makna  yang terkandung didalmnya mempunyai Aura yang sangat besar, orang yang belum berumur 20 Tahun keatas tidak dianjurkan untuk mempelajari buku itu karena dihawatirkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan,
               
Mbah Nuryahya salah satu Tokoh Spiritual Srikandang menuturkan, “ Islam Lan Kejawen iku ibarate sandal kiwo lan tengen” Maksud dari kalimat itu adalah “ Ajaran Agama islam dan Adat istiadat Jawa itu diibaratkan Sandal kiri dan kanan” beliau juga menyinggung masalah buku Primbon dan beliau juga menuturkan “ Buku Primbon oleh di percoyo tapi ojo sampek diimanake, sebab kabeh mau karek gusti dzat kang moho kuaos yoiku Allah Taa’la,  Maksudnya Buku Pribon Boleh dipercaya tapi jangan sampai terlalu dipercayai sepenuhnya karena semua itu adalah tergantung dari Allah SWT.
                 


Menurut Mbah Nur Hasan,“ Buku primbon iku isine totocoro adat istiadat kejawen seng orak iso diowah-owah, lan manuso urep ono ing alam donya iki yo ono seng gawe utowo nyeptakno, menuso diciptakno yo ora liyo namung nyembah karo gusti Allah Taala, lan Buku Primbon diciptakno yo mung ora liyo kanggo cekelan lan aturan mungguheng wong sesrawong karo liyan, Agomo islam Al Quran kitabe, Kejawen Yoiku primbon lan Al Quran Dasare” Maksudnya adalah Buku primbon itu berisi cara atau aturan-aturan adat istiadat jawa yang tidak bisa dirubah-rubah, dan manusia hidup didunia ini ada yang menciptakan, Manusia diciptakan tak lain adalah untuk menyembah Allah semata, dan buku primbon diciptakan atau dibuat tidak lain untuk pegangan atau aturan untuk bergaul dengan orang lain, Agama islam kitabnya adalah Al Quran, Kejawen yaitu Primbon dan Al Quran Dasarnya.

Masyarakat Srikandang kecamatan Bangsri Kabupaten jepara memang Mayoritas memeluk agama islam tapi kalau meninggalkan adat kebudayaan nenek moyang mereka itu rasnya sulit, itu dibuktikan dari adat istiadat jawa yang masih melekat pada masyarakat tersebut suatu contoh hari kelahiran saja itu ada yang namanya “ Petung Dino Rangkepan” Artinya adalah hitungan hari dobel, dengan menggunakan patokan buku Primbon tersebut.
Dalam Buku Primbon disebutkan hari dan Jumlah dobelannya atau pasarannya,

SABTU. 9. AHAD. 5. SENIN. 4. SELASA. 3. RABU.7. KAMIS. 8. JUMAT. 6.
PON. 7. WAGE. 4.KLIWON.8. LEGI.5. PAHING.9.

Dalam kitab primbon yang paling banyak dibahas adalah masalah hari, baik hari kelahiran maupun hari –hari baik, dalam melakukan sesuatu masyarakat pada umumnya sering menggunakan kitab primbon untuk dijadikan rujukan dengan bertanya kepada sesepuh setempat, dalam kitab primbon badaljemur adammakna juga disebutkan tentang hari kelahiran dan makna hari tersebut:
                Wataking Bayi miturut dina naliko lahire (Watak bayi menurut hari kelahiran )
Ahad: Lakuneng serngenge, padhang atine, suka rila samu barange mareng pawong sanake, keras budine, asih marang kawulo, resikan lan nuraca, biso mprentah wong tuwo (jalannya matahari, terang hatinya, suka memberi barang kepada orang lain dengan ikhlas , keras sifatnya, sayang dengan orang lain, suka kebersihan dan pandai berdandan, bisa memerintah orang tua)
Senen: Lakune rembulan, ora keno digagampang wicarane, demen marang penggawean bener,  ( Jalannya Rembulan, tutur katanya tidak bisa disepelekan, senang dengan perbuatan yang benar )
Slasa: Lakune geni, durjana rong prakoro,disengeti wong, yen due sasanakan mung sedhela, suka rila, nanging jael dehwen panesten tan antepan. (jalannya Api, dibenci orang, kalau punya temen itu tidak awet, orangnya jail, iri hati dan berat memutuskan sesuatu)
Rebo: Lakuning bumi, yen bechik nkluwihi becike, ora kurang sandang pangan, budhine meneng yen, clatu kepara ngarep,semangsa gelem clathu kakudu-kudu. (Jalannya bumi, kalau baik melebihi baiknya, tidak kekurangan harta benda, berjalan ingin didepan atau memimpin, kalau mau memimpin itu semaunya sendiri )
Kemis: Lakuning angen lan gelap, sopo seng dadi jodhone sering mati disek, akeh kang padha wedi maring wicarane, yen due rewang ora biso awet, ora terus neng baten, panas atine, luweh brangasan, keno diapusi yen diempok alos.(Jalannya angin dan kegelapan, siapa yang menjadi jodohnya sering  marameninggal dulu, banyak yang takut dengan tutur katanya, jika berteman itu tidak tahan lama, tidak mudah tersinggung, lebih keras sifatnya, mudah dirayu )
Jumuah: Lakuneng lintang, dhemen mandhito lan dhemen mplarat, yen deduwen dijaluk sanak sadulure suka rila, dhemen ngupoya kepinteran, ambeke alos, suko marang pawong sanake, akeh pawong mitrane padha aseh. (Jalannya Bintang, suka berguru dan suka miskin, kalau punya sesuatu diminta orang lain ikhlas, suka mencari ilmu, tidak suka tergesa-gesa, suka pada tmen yang lain, banyak yang suka)
Setu: Lakuneng Banyu, kerep disatru wong, akeh mitrane uga podo nyirek, serta kinaweden ing wong akeh, nangeng ono kayane, pinter ngupoyo sandang pangan, dol tinuku geles payu, luweh banter gawene, sabarang pagawean kudu mara tangan, enggal katandanga. (Jalannya Air, sering jadi omongan orang, banyak temen yang menjauhinya, takut jika didepan umum, tapi ada hasilnya pandai memelihara harta benda,  jualan cepet laku, pekerjaanya cepat, semua pekerjaan harus dilakukan biar cepat selesai ).

Wataking bayi miturut lahire dina lan pasaran. (Sifat bayi menurut hari kelahiran dan hari pasaran)
Jumuah kliwon: Yen lanang ora micara, mung sedengan bae, yen wadon judas, marang wong lanang ngewani.(kalau laki-laki tidak banyak bicara, kalau perempuan cerewet dan berani dengan laki-laki)
Setu legi: cukeng, pinter golek milik, nginguo jaran, wasis serta sugih, (pandai mencari hak milik, peliharalah kuda, sombong dan kaya)
Akad paing: pikire prayetno, semu diri piyangkuh koya samudra jagad. (pemikirannya luas, tidak kelihatan batas keangkuhannya seprti samudra di dunia)
Senen pon:  manes wicarane, biso ngenai piker sasamaning wong lan bisa golek rejeki. (gaya bicaranya baik dan bagus, bisa menyenangkan hati sesama dan bisa mencari rizki)
Slasa wage: ora wicara yen wong wadon prayogo bisa simpen arta.(tidak banyak bicara, kalau perempuan itu lebih bagus pandai menyimpan uang)
Rebo kliwon: wegig wicara, ing piker calimut marang wong wadon, mawi rusuh watak pandhito.(tidak pandai dalam berbahasa, didalm pikiran itu suka curi-curi pancang dari wanita, seperti guru yang yang berwatak jelek)
Kemis legi: berpikir, yen wadon luwih cendholo, maring wong lanang ngewani padu. (orangnya berfikir, kalau perempuan itu lebih jahat, brani bertengkar dengan laki-laki).
Jumuah paing: meneng, yen busuk babar pisan,yen pinter dadi panutane wong akeh, sugeh kepinteran.(pendiam, kalau jahat itu lebih jahat, kalau pandai akan jadi orang yang dianut orang banyak dan banyak ilmu).
Setu pon: biso kriyo gawene, yen lanang, yen wadonbiso golek melik ambalubud.(kalau laki-laki mudah mencari kerjaan, kalau perempuan bisa mencari perlengkapan kebutuhan sehari-hari ).
Akan wage: gedhe karepe,yen due pikerora keno dipalangi, yen wadon ala. (keras kemauannya, jika mempunyai keinginan tidak bisa dihalangi, kalau perempuan itu jahat).
Senen kliwon: anteng pikire,yen ijeh enom bandhel sedhelo, yen wis tuo alos pikire. ( pikirannya tenang, ketika masih muda agak bandel dan kalau sudah tua pemikirannya tenang).
Selasa Legi: kurang micara, yen juweh wegig,barang ingpikir apik, kaporo ngutuh, pikire banter
,( tidak banyak bicara, kalau bacara ngak terkontrol, sesuatu yang ada dipikirannya utuh, pahaman )
Rabu pahing: mungguh umpaan kapara diri, lumuh kungkulan, satemene cocokan, pikire banter.( bias berdiri sendiri, orangnya cocokan dalam mencari temen atau dalam bergaul, pahaman)
Kamis Pon: anteng pikire, piyangkuh, meneng, besus samubarang ora ketara, piyangkuh gemi tegese.( pikirannya tenang, angkuh, pendiam, kalau berguman itu tidak ada yang tau, lebih jelas karena keangkuhannya).
Jumuah Wage: Bisa micara, juweh receh patitis, cetha nanging cengkiling, hlan nanging erep kesandung (bias bicara jelas masuk akal mudah dipahami tapi ringan tangan tapi sering tersandung masalah atau kasus)
Setu Kliwon: bodho ngaku pinter, lalen nangeng temen, lumuh maju gawe (bodoh tapi mengaku pandai, pelupa tapi bersemangat, malas dalam dalam bekerja)
Akad legi: lalen kurang wegig kepinterane, karemane madon, kang padha laku ala penggawe ngiwa (pelupa kepandaiannya kurang memadai, kepuasannya adalah mai dengan perempuan, sama berbuat jahat dan kerja dengan tangan kiri)
Senen paing: murka marang penggawean samubarangsedhengan, yen wadon pikire luweh prayogo (srakah dalam bekerja apa saja dan pas-pasan, kalau perempuan pikirannya lebih bagus)
Slasa Pon: kurang piker, lumuh ing pekara, yen wadon sae, prayogo sinelir ing priyayi (kurang akal, kalu wanita bagus seperti kesukaan semua orang termasuk orang yang baik)
Rabu Wage: sedhengan barang  pikire maju ing gawe, yen wadon cendholo marang wonh lanang (pas-pasan dalam  memikirkan sesuatu, semangat dalam bekerja, kalau perempuan jahan dengan lelaki)
Kamis Kliwon: Kurang pikire, pethel ing gawe, yen kalah gelo jero batine langkung susah atine(pemikirannya kurang luas, rajin dalam bekerja, kalau kalah nyesel didalam hati dan hatinya susah)
Jumuah Legi: elu-elu ora due piker dewe, yen kalah gelo jero batine, langkung susah atine (tidak punya pedoman hanya ikut-ikutan, kalua kalah hanya penyesesalan dalam batinnya dan susah hatinya )
Setu paing: lanang wadon biso golek melik, bisa simpen wicara alus utowo agal (laki-laki maupu perempuan bias meraih apa yang diharapkan, bisa, nyimpan kata-kata yang halus maupun yang keras, )
Akad Paing: kurang piker, pracoyo ing liyan, yen wong wadon prayogo, biso simpen kayane, wong lanang (pemikirannya kurang, mudah percya dengan orang lain, kalau perempuan lebih bagus bisa menyimpan hasil kerja dari suaminya)
Senin Wage:kurang pikire, bregundung atine, wani pakewoh,wani mati yen wadon becik. (pemikirannya kurang, bergejolak hatinya, brani menanggung malu, brani mati kalau wanita bagus atau benar )
Slasa Kliwon: yen busuk babar pisan, yen pinter dadi pujangga utowo ulama.(kalau jahat lebih dari jahat, kalau pandai jadi pujangga atau ulama)
Rebo Legi: lumrah prasaja, njaluk gelem, dijalui aweh,yen wadon prayogo sabarang pikire.(wajar dalam berbuat, mau meminta, jika dimintai memberi, kalau perempuan itu lebih baik banyak dan luas pemikirannya)
Kemis Paing: tentrem anteng tan amikir,maju gawe temen,dadi priyayi cedhak marang wong agung, samubarang gawene (tentrem tenang dalam berpikir, maju serius dalam bekerja, jadi orang yang dekat dengan pejabat, apa saja pekerjaannya)
Jumuah Pon: wegig sak jerone piker, yen nora keduga mplengos, ewo atine kang ala (kurang pas dalam pemikiransuka memendam sesuatu dalam hati, kalau tidak diperhatukan maka akan berpaling dengan kata lain ingin selalu dperhatikan, malu kalau hatinya busuk )
Sabtu Wage: lalen pangrahitane, pikire sakjeroneng ati kaku, lengus sadhelo nuli mari (pelupa, hatunya keras, sensitive tapi hanya sementara)
Ahad Kliwon: murka sugih karep, yen wadon boros ung darbeke, (mempunyai banyak keinginan, kalau perempuan boros)
Senin Legi: anteng ora demen micara, welu karepe, yen wadon becik sabarang gawene (pendian tudak banyak bicara, sulit diketahui apa maunya, kalau perempuan itu cocok dengan semua pekerjaan)
Selasa Paing: isinan kaku pikire andhap patrape, lumuh marang penggawean yen wadon remen mengku kakunge (pemalu keras hatunya sopan, suka dengan pekerjaan yang dilakukan, kalau perempuan suka merawat orang tuanya)
Rabu Pon: kuat pikire sregep ing gawe, temen sedyane, yen wadon gemi nanging kaku pikire (kuat pemikirannya rajin dalam bekerja, kalau perempuan itu bagus tapi keras pemikirannya)
Kamis Wage: banter budhune, kuwat sabarang pakewo, yen wadon pikire ora lilan (keras budi pekertinya, kuat menahan malu, kalau perempuan tidak nerimanan)

Jadi orang yang lahir itu rata-rata dihitung dengan rumus itu, dan tidak bisa diubah-ubah. Menurut buku Primbon Orang yang meninggal juga ada hari baik dan buruknya, jika dihitung dengan rumus diatas kalau meninggalnya itu pada hitungan genap maka keluarga yang yang ditinggalkan harus selamatan karena itu dianggap sebagai bala’ atau mendatangkan mala petaka bagi keluarga dengan menggunakan Ayam, dan ayam itu ditentukan tergantung harinya, tapi pada umumnya menggunakan ayam tulak, yaitu sesui dengan namnya tulak atau sebagai penolak bala’ atau malapetaka yang akan melanda kelurga yang ditinggalkan.
               
                Buku primbon tidak hanya mejadi pegangan Hidup semata tapi juga dijadikan sebagai tolok ukur kebribadian seseorang dengan melihat ( neptu ) hari kelahiran di situ akan ditemukan dari mulai watak, kepribadian, jodoh dan rizki seseorang dilihat dari hari kelahiran, meskipun tidak semua masyarakat itu tau dan menguasai primbon tersebut, tapi kalau masalah hitungan hari itu bisa dilakukan oleh siapa saja asal tau rumus diatas. Dalam kehidupan sehari–hari masyarakat Srikandang pada umumnya menggunakan Primbon dan masih memegang teguh norma-norma adatistiadat, jika ada seseorang yang salah menghitung hari baik itu dalam melangsungkan pernikahan, sunatan, atau membuat rumah maka akan ada bala atau malapetaka yang bisa mendatangkan kematian, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan maka tidak sembarang orang bisa memberi hari dalam upacara-upacara penting seperti pernikahan, sunatan, ataupun membuat rumah, hari tersebut harus didapat dari orang yang dituakan dan sudah benar-benar menguasai hal tersebut, kalau orang Srikandang menyebutnya adalah Pandito (Dukun).

Jika mendengar nama desa tersebut maka akan terasa adat kejawennya, karena dari masyarakat tersebut banyak Pandito (Dukun) terkenal, dalam satu desa itu ada lebih dari 50 Dukun (para normal) yang beraliran kejawen, dan berpegang teguh pada adat istiadat jawanya yaitu Primbon, banyak orang yang datang ke srikandang untuk berguru dan mereka berharap bisa mewarisi ilmu yang dimiliki orang tersebut, orang yang datang berguru atau meminta obat tidak hanya dari tetangga desa saja tapi banyak juga yang datang dari luar kecamatan juga.

                Para Pandito (Paranormal) Srikandang, Kitab Primbon yang sering dijadikan rujukan adatistiadat, dan sebagai landasan dalam bermasyarakat buku itu jumlahnya ada 11 jenis Buku Primbon yaitu adalah:
  1. Kitab Primbon Badal jemur adammakna bahasa jawa
  2. Kitab Primbon Lukmanakim Adammakna
  3. Kitab Primbon Atassadhur Adammakna
  4. Kitab Primbon Shahdhatsaahthir Adammakna
  5. Kitab Primbon Bektijammal Adammakna
  6. Kitab Primbon Qomarrullsyamsi Adammakna
  7. Kitab Primbon Naklassanjir Adammakna
  8. Kitab Primbon Quraisyn Adammakna
  9. Kitab Primbon Ajimantrawara
  10. Kitab Primbon Badaljemur Adammakna
  11. Kitab Primbon Badaljemur Adammakna 1B


Dari sejumlah buku tersebut itu semua adalah cetakan baru karena  nenek moyang terdahulu adalah tulisan tangan sehingga mudah hilang dan kebanyakan itu hanya hafalan jadi kalau umurnya sudah tua maka akan muda lupa, untuk menghindari itu maka banyak sesepuh masyarakat setempat berinisiatif untuk membeli dipasaran, karena isi dan makna yang terkandung banyak kesamaan, tapi ada sebagian kecil para Pandito (paranormal) Srikandang yang mempunyai Buku primbon itu turun temurun dari nenek moyangnya tapi buku itu tidak dapat diperlihatkan kepada sembarang orang dan pada hari-hari tertentu saja buku itu dapat dikeluarkan itupun jika ada perlu atau ada upacara malam satu syuro, karena dalam buku primbon Kitab Primbon Atassadhur Adammakna dijelaskan bahwa bulan syuro itu sangat sakral bagi masyarakat Jawa Srikandang khususnya, Masyarakat setempat tidak pernah mlaksanakan upacara pernikaha, sunatan, membuat rumah atau pindah rumah karena dipercaya jika melanggar maka akan datang malapetaka yang dapat menjadikan seseorang itu sakit dan sampai meninggal.
Dalam Kitab Primbon Badaljemur Adammakna bulan yang baik dan buruk untuk melangsungkan upacara Pernikahan sebagai berikut:
  1. Suro : tukar padu, nemu kerusakan (Aja diterak) “ Maksudnya adalah jika melangsungkan pernikahan pada bulan ini maka kedua mempelai akan sering bertengkar dan menemui kerusakan dalam rumah tangga.(Jangan dilakukan)
  2. Sapar : Kekurangan, sugih utang, (Kena diterak) “ Maksudny adalah jika melangsungkan pernikahan pada bulan ini maka kedua mempelai akan kekurangan dan banyak hutang.(Boleh dilakukan)
  3. Mulud : Mati siji (Aja diterak) “ Maksudnya adalah jika melangsungkan pernikahan dibulan ini maka kedua mempelai akan menemui salah satu ada yang meninggal dunia.(Jangan lakukan)
  4. Rabingulakir: tansah dicatur lan nemu ujar ala.(kena diterak) “ Maksudnya adalah jika melangsungkan pernikahan pada bulan ini maka kedua mempelai akan menemui sering dibuat bahan pembicaraan orang dan sering menemui kata-kata yang jelek atau sering didzalimi orang lain,(Boleh dilakukan)
  5. Jumadil awal: kerep kelangan, kapusan, sugeh satru,(kena diterak)” Maksudnya adalah jika melangsungkan upacara pernikahan pada bulan ini maka kedua mempelai akan mengalami sering kehilangan, sering kena tipu, banyak yang membencinya,(Boleh dilakukan)
  6. Jumadilakir: Sugih Mas salaka.” Maksudnya adalah jika melangsungkan upacara pernikahan pada bulan ini maka kedua mempelai akan kaya raya yang tiada terkira.
  7. Rejeb: Sugih anak lan slamet.” Maksudnya adalah jika ada yang melangsungkan pernikahan pada bulan ini maka akan mempunyai banyak keturunan dan selamat.
  8. Ruwah:  Rahayu ing sakabehe.” Maksudnya adalah jika melangsungkan pernikahan pada bulan ini maka kedua mempelai akan mengalami ketenangan keluarga, banyak rizki dan selamat.
  9. Pasa: Cilaka Gedhe, (Aja diterak)” Maksudnya adalah jika melangsungkan pernikahan dibulan ini maka mempelai akan mendapan bencara yang tak terkira,(jangan dilakukan)
  10. Sawal: Kekurangan, Sugih utang.(Aja diterak)” Maksudnya dalah jika melangsungkan pernikahan dibulan ini maka kedua mempelai akan mengalami kekurangan harta benda dan banyak hutang.(jangan dilakukan).
  11. Dulkangidah: Gering, Kerep pasulayan lan mitra, (kena diterak).” Maksudnya adalah jika melangsungkan upacara pernikahan dibulan ini maka kedua mempelai akan Sering Sakit, dan sering ngobral janji dengan orang lain.(Boleh Dilakukan).
  12. Besar: Sugih, nemu Suka harja”.Maksudnya adalah jika melangsungkan upacara pernikahan dibulan ini maka kedua mempelai akan kaya dan menemui kebahagiaan yang tak terkira.
Selain bulan untuk melangsungkan upacara pernikahan dalam Kitab Primbon Badaljemur Adammakna juga dijelaskan tentang pengantin laki-laki akan ijab (Nikah)
* Penganten Lanang arep ijab(Nikah)
                “ Penganten lanang yen arep ijab, penganggone kulukan lan kampuhan, utowo bebedan lan iket iketan, mung bae ora kena menganggo kang bangsane mas-masan, ugo ora keno nganngo jarek utowo iket kang batikane nganggo manuk, kupu lan liya-liyane,  (bathikan kang nganggo corak kewan urip) keris pendoke swasa, perak utowo liya-liyane uger dudu mas, lan uga penganten durung kena kerik”
Maksudnya adalah penganti laki-aki yang mau melangsungkan ijab (Nikah),  boleh memakai peci, atau sarung dan blangkon, tapi tidak boleh memakai perhiasan (Mas), dan tidak boleh memakai sarung atau blangkon yang batiknya bergambar burung, kupu-kupu, dll (batik yang bercorak binatang hidup), boleh membawa keris yang terbuat baja, perak, yang penting tidak terbuat dari emas.

                Masyarakat Srikandang banyak yang mempercayainya dan bahkan jika mau melakukan upacara-upacara penting seperti, nikah, sunatan, membuat rumah atau pindah rumah itu harus datang kerumah seorang Paranormal untuk meminta hari yang pas dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, jika melakukan upacara-upacara tersebut tidak mendapatkan hari yang sesuai maka akan ada resiko yang harus ditanggung oleh orang yang melakukan upacara tersebut. Meskipun masyarakat sangat memegang teguh dengan adat istidat namun tidak menutup kemungkinan untuk bisa mengikuti kemajuan zaman namun tidak meninggalkan adat dan peraturan atau aturan adat setempat, “ penulis menyadari bahwa jika orang yang hidup didesa itu persatuannya sangat kuat untuk bermasyarakat dan mempunyai jiwa sosial yang sangat tinggi”.
                Mbah Dhori Adalah seorang Paranormal dari desa Pendem kecamatan kembang menuturkan Bahwa “ adat istiadat kejawen iku yo sanepaning urep lan orak mlenceng kok syariat agomo islam,  uwong jowo orak iso ninggalno adat jowone mergo kuwi warisan leluhur jowo seng kudu diurep-urep”. Maksudnya adatistiadat jawa itu ibarat atau pribahasanya orang hidup didunia dan tidak melanggar dari ajaran agama islam, orang jawa tidak bisa meninggalkan adat jawanya karena itu merupakan warisan nenek moyang jawa yang harus dilestarikan. Penuturan itu sangat pas karejangan sampi orang itu meninggalkan atau melupakan kebudayaannya sendiri.
                                            
                Pak Sholikhul Hadi adalah Warga biasa dari masyarakat srikandang menuturkan tentang buku primbon, “ ngomong masalah kejawen iku oleh karo sopo wae tapi kudu dideloi disek wong iku paham seng dimaksud opo orak lan ojo sampek  salah pemahaman salah ucap wae iso dadeake syirik nek pancen orak reti sisan rak reti nek reti sisan reti ojo mogol” Maksudnya adalah berbicara masalah adat kejawen itu boleh dengan siapa saja tapi harus memperhatikan dulu siapa itu orang itu paham apa tidak yang dimaksudkan dan jangan sampai orang itu salah arti dan salah megatakan karena bisa menjadi syirik kalau memang tidak tau mending tidang tau, jika memang tau jangan sampai tau setengah-setengah. Memang mempelajari adatistidat kejawen itu tidak mudah karena dalam ajaran jawa itu merupakan istilah-istilah yang harus ditafsirkan dan harus ada yang mendampingi dalam menafsirkannya.

                Kebanyakan masyarakat srikandang percaya dan meyakini dengan apa yang terdapat didalam kitab primbon tersebut, akan tetapi masyarakat juga meyakini bahwa segala sesuatu itu sudah ada yang mengatur yaitu tuhan, kitab primbon hanyalah sebuah kitab yang dikarang oleh manusia dengan menganalisa kejadian-kejadian dan kebiasaan, adat istuadat bukanlah untuk ditinggalkan atau diabaikan tetapi untuk dilestarikan karena itu merupakan warisan leluhur atau nenek moyang kita terdahulu, yang tertulis diatas itu hanya merupakan bagian yang paling dasar karena kalau ditulis secara keseluruhan maka akan menumbulkan kontrofersi bagi orang yang belum memahami apa itu primbon itu dan seperti apa primbon itu.
  

















               

2 komentar:

ucuperz mengatakan...

ncen mbah dukun

Wiji Anjaya mengatakan...

Waktu kecil aku sering baca kitab yang asli. Ko ga gila ya?

Poskan Komentar